Minggu, 25 November 2012

HUBUNGAN AKHLAK TASAWUF DENGAN ILMU JIWA AGAMA




Psikologi transpersonal adalah istilah yang diberikan pada madzhab psikologi yang digagas oleh para psikolog atau ilmuwan dalam bidang lainnya yang menekankan pada kemampuan dan potensi puncak manusia yang secara sistematis tidak memiliki tempat dalam teori postivistik atau behavioristik.
Munculnya aliran psikologi transpersonal adalah berawal dari kesadaran para psikolog akan problem-problem kemanusiaan yang diakibatkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga kehancuran peradaban, serta hal-hal lain yang belum terjawab oleh aliran-aliran sebelumnya.
Kehadiran psikologi transpersonal yang juga disebut psikologi spiritual diharapkan bisa  menjadi  jembatan yang menghubungkan antara rasionalitas ilmu pengetahuan dengan pengalaman spiritual manusia.
Dengan demikian, spiritualitas bukan lagi sebagai kajian yang tabu bagi ilmu pengetahuan, namun sebagai bagian tak terpisahkan darinya.         
Terdapat hubungan erat antara ilmu tasawuf dengan ilmu jiwa (psikologi). Hal ini dapat dilihat pada substansi pembahasannya yang sama-sama membicarakan hal ihwal jiwa manusia.
Mengingat adanya hubungan dan relevansi yang sangat erat antara tasawuf (spiritualitas Islam) dengan ilmu jiwa (psikologi), terutama ilmu kesehatan mental, maka kajian tasawuf tidak dapat terlepas dari kajian tentang aspek kejiwaan manusia.
Sebagai konsekwensi logis dari karakter seorang sufi yang apa adanya, mandiri serta bebas dari kepentingan, pengaruh atau tekanan dari luar dirinya, akan menjadikannya seorang yang kreatif dan inovatif. Ia adalah sosok yang senantiasa menemukan sesuatu yang baru, bahkan cenderung pada hal-hal yang bersifat controversial atau berbeda dengan perilaku atau gagasan orang kebanyakan. Bukan sosok yang hanya meniru atau mengulang-ulang gagasan yang telah ada sebelumnya. Meskipun perilaku dan gagasannya mungkin ditentang oleh orang kebanyakan. Karakter yang bebas, polos dan mandiri menjadikannya senantiasa tegar menghadapi tantangan yang datang dari luar. Karakter ini secara jelas dapat ditemukan pada orang yang mengaktualisasikan diri.
Bukan merupakan sesuatu yang berlebih-lebihan bila kita mengatakan bahwa para sufi adalah pakar ilmu jiwa sekaligus dokter jiwa. Seringkali datang kepada Syekh Sufi, orang-orang yang menderita penyakit kejiwaan, lalu mereka mendapatkan di sisinya perasaan santun, keikutsertaan perasaan, perhatian, rasa aman, dan ketenangan. Inilah salah satu sebab dalam percakapan sehari-hari, orang banyak mengaitkan tasawuf dengan unsur kejiwaan dalam diri manusia. Hal ini cukup beralasan mengingat dalam substansi pembahasannya, tasawuf selalu membicarakan persoalan-persoalan yang berkisar pada jiwa manusia. Hanya saja, ‘dalam jiwa” yang dimaksud adalah jiwa manusia muslim, yang tentunya tidak lepas dari sentuhan-sentuhan keislaman. Dari sinilah, tasawuf terlihat identik dengan unsur kejiwaan manusia muslim.
Dalam pembahasan tasawuf dibicarakan tentang hubungan jiwa dengan badan agar tercipta keserasian di antara keduanya. Pembahasan tentang jiwa dan badan ini dikonsepsikan para sufi untuk melihat sejauh mana hubungan perilaku yang dipraktikkan manusia dengan dorongan-dorongan yang dimunculkan jiwanya sehingga perbuatan itu dapat terjadi.
Jika perbuatan yang ditampilkan seseorang baik, ia disebut orang yang berakhlak baik. Sebaliknya, jika perbuatan yang ditampilkan buruk, ia disebut sebagai orang yang berakhlak buruk.
Dalam pandangan kaum sufi, akhlak dan sifat seseorang bergantung pada jenis jiwa yang berkuasa atas dirinya.
Ditekankannya unsur jiwa dalam konsepsi tasawuf tidak berarti bahwa para sufi mengabaikan unsur jasmani manusia. Unsur ini juga mereka pentingkan karena rohani sangat memerlukan jasmani dalam melaksanakan kewajiban beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah-Nya di bumi. Seseorang tidak akan sampai kepada Allah dan beramal dengan baik dan sempurna selama jasmaninya tidak sehat. Pandangan kaum sufi mengenai jiwa erat hubungannya dengan ilmu kesehatan mental. Ilmu kesehatan mental ini merupakan bagian dari ilmu jiwa (Psikolog).
Dalam ilmu psikiater dan psikoterapi, kata mental sering digunakan sebagai nama lain kata personality (kepribadian), yang berarti bahwa mental adalah semua unsur jiwa, termasuk pikiran, emosi, sikap(attitude), dan perasaan yang dalam keseluruhan dan kebulatannya akan menentuan corak laku, cara menghadapi suatu hal yang menekan perasaan, mengecewakan atau menggembirakan, menyenangkan, dan sebagainya.
Bagi para ahli di bidang perawatan jiwa, terutama di Negara-negara yang telah maju, masalah mental ini telah menarik perhatian mereka sampai jauh sekali. Mereka telah menemukan hasil-hasil yang memberikan kesimpulan tegas, yang membagi manusia pada dua golongan besar, yakni golongan yang sehat dan golongan yang kurang sehat.
Orang yang sehat mentalnya adalah orang yang mampu merasakan kebahagiaan dalam hidup karena orang-orang inilah yang dapat merasakan bahwa dirinya berguna, berharga, dan mampu menggunakan segala potensi dan bakatnya semaksimal mungkin dengan cara membawanya pada kebahagiaan dirinya dan orang lain. Serta tetap terpelihara moralnya.
Pada perilaku orang sehat setiap tindak-tanduknya ditujukan untuk mencari kebahagiaan bersama, bukan kesenangan dirinya sendiri. Kepandaian dan pengetahuan yang dimilikinya digunakan untuk meraih manfaat dan kebahagiaan bersama.
Sementara cakupan golongan yang kurang sehat sangatlah luas, dari yang paling ringan hingga yang paling berat; Gejala umum yang tergolong pada orang yang kurang sehat dapat dilihat dalam beberapa segi, antara lain :
1.      Perasaan, yaitu perasaan terganggu, tidak tentram, rasa gelisah tidak tentu yang digelisahkan, tetapi tidak dapat pula menghilangkannya (anxiety), rasa takut yang tidak masuk akal atau tidak jelas yang ditakutinya (fhobi), rasa iri, rasa sedih yang tidak beralasan, rasa rendah diri, sombong, suka bergantung pada orang lain, tidak mau bertanggung jawab, dan sebagainya.
2.      Pikiran, gangguan terhadap kesehatan mental dapat pula memengaruhi pikiran, misalnya anakl-anak menjadi bodoh di sekolah, pemalas, dan sebagainya. Demikian pula, orang dewasa mungkin merasa bahwa kecerdasannya telah merosot, mudah dipengaruhi orang lain, meladi pemalas, apatis, dan sebagainya.
3.      Kelakuan, pada umumnya kelakuannya tidak baik, seperti nakal, keras kepala, suka berdusta, menipu, menyeleweng, mencuri, menyiksa orang lain, membunuh, merampok, dan sebagainya, yang menyebabkan orang lain menderita dan haknya teraniaya.
4.      Kesehatan, jasmaninya dapat terganggu, bukan karena adanya penyakit yang betul-betul mengenai jasmani itu, tetapi sakit akibat jiwa yang tidak tentram. Penyakit ini disebut psikosomatik. Gejala ini, yang sering terjadi, seperti sakit kepala, merasa lemas, letih, sering masuk angin, tekanan darah tinggi atau rendah, bahkan sampai sakit yang lebih berat, seperti lumpuh sebagian anggota badan, lidah kelu, dan sebagainya. Yang penting adalah penyakit jasmani ini tidak mempunyai sebab-sebab fisik sama sekali.
Berbagai penyakit seperti dijelaskan di atas sesungguhnya akan timbul pada diri manusia yang tidak tenang hatinya, yakni hati yang jauh dari Tuhannya. Ketidaktenangan itu akan memunculkan penyakit-penyakit mental, yang pada gilirannya akan menjelma menjadi perilaku yang tidak baik dan menyeleweng dari norma-norma umum yang disepakati.
Harus diakui memang jiwa manusia seringkali sakit. Ia tidak akan sehat sempurna tanpa melakukan perjalanan menuju Allah dengan benar. Jiwa manusia juga membutuhkan perilaku (moral) yang luhur sebab kebahagiaan tidak akan dapat diraih tanpa akhlak yang luhur, juga tidak dapat menjadi milik tanpa melakukan perjalanan menuju Allah.
Bagi orang yang dekat dengan Tuhannya, yang akan tampak dalam kepribadiannya adalah ketenangan. Perilakunya juga akan menampakkan perilaku atau akhlak-akhlak yang terpuji. Semua ini bergantung pada kedekatan manusia dengan Tuhannya. Pola kedekatan manusia dengan Tuhannya inilah yang menjadi garapan dalam tasawuf. Dari sinilah , tampak keterkaitan erat antara ilmu tasawuf dan ilmu kesehatan mental.
1.Persamaan Konsepsi tentang Potensi Manusia
Adanya potensi kebaikan yang dimiliki manusia adalah erat kaitannya dengan tugas besar yang diembannya yaitu sebagai wakil Allah di bumi (khalifah fi al-ardl). Tugas berat ini menuntut manusia untuk memiliki struktur watak yang baik, seperti keadilan, persatuan, rendah hati, dinamis, kreatif, tegas, percaya diri, kuat dan lain-lain. Sifat-sifat tersebutlah yang secara mendasar dimiliki oleh manusia, meskipun sebagian besar manusia tidak menyadarinya, sehingga dorongan-dorongan dan kecenderungan yang mengarah pada kebaikan itu mudah dipengaruhi atau dikuasai oleh rangsanan-rangsangan yang datang dari luar. Untuk itulah, maka diperlukan upaya aktualisasi diri.
Secara inheren, kecenderungan atau dorongan-dorongan emosional dan biologis manusia adalah mengarah pada kebaikan, bukan kejahatan, namun mudah untuk menerima rangsangan-rangsangan jahat yang bersifat eksternal. Untuk itu, maka perlu adanya pengendalian terhadap kecenderungan tersebut, sehingga tidak mudah menerima rangsangan yang mengarahkannya pada kesalahan atau kemunduran.
Dalam tradisi tasawuf, dorongan emosional-biologis ini disebut dengan nafsu; yakni entitas dinamis yang ada pada diri manusia. Jika entitas ini dilatih secara benar, maka akan tumbuh dan berkembang pada jenjang tertinggi dari kesadaran spiritual. Namun, jika nafsu tidak dikendalikan, maka yang mendominasi adalah dorongan-dorongan kejahatan. Untuk itulah maka diperlukan struktur nilai yang berupa wahyu, ajaran-ajaran atau norma-norma yang dapat menjadi alat pengontrol bagi kecenderungan nafsu.
Menurut Maslow hamper semua orang memiliki kebutuhan dan kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri. Meski demikian, kebanyakan orang tidak mengetahui potensi yang dimilikinya, buta terhadap kemampuannya sendiri. Mereka tidak menyadari seberapa besar prestasi yang dapat mereka raih dan seberapa banyak ganjaran bagi mereka yang mengaktualisasikan diri.
2.Persamaan Konsepsi Perkembangan Jiwa Manusia
Manusia adalah makhluk yang memiliki potensi atau kemampuan istimewa dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia diberi kekuatan untuk memiliki kehendak yang bebas dan diberi kemampuan akal yang dapat mengarahkannya pada jalan kebenaran. Manusia memiliki karakter dasar berupa kecenderungan pada kebaikan dan kebenaran.
Manusia juga diberi peluang untuk menjauh dari karakter dasarnya tersebut. Dengan kata lain, manusia diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, maju atau mundur dari proses aktualisasi diri. Pilihan inilah yang akan dapat merubah kondisi psikologi manusia, karena perubahan yang ada pada dirinya ditentukan oleh pilihannya sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar